19 November 2009

Ganti pacar


Mencari pacar yg cocok, yg bener2 pas buat kita, bikin mantep di hati, bukan hal yg mudah bagi kebanyakan orang. Tapi mencari pacar baru setelah ditinggalkan atau meninggalkan pacar sebelumnya, rasanya lebih sulit lagi. Saat pencarian pacar pertama kali, kondisi kita masih “kosongan”. Mindset kita masih bersih. Walaupun kriteria tentu saja ada, bahkan harus ada, tapi bagaimana pun juga menilai calon pacar tanpa ada pengalaman sebelumnya, jadi lebih mudah krn kita belum punya pembanding yg nyata.

Setelah kita “jadian” dgn pacar yg pertama, dari sinilah proses pembelajaran dimulai. Kita mulai belajar empati, belajar toleransi, belajar kompromi, belajar berkorban, dan lain sebagainya. Jika karena suatu dan lain hal kemudian kita memutuskan hubungan kekasih dgn pacar pertama, bisa dipastikan hasil pembelajaran yg kita peroleh akan terus kita ingat dan bahkan akan membentuk mindset baru tentang bagaimana sosok pacar yg ideal bagi kita. Sedikit banyak, mindset ini dibentuk oleh pacar yg pertama tsb.

Adanya mindset inilah yg menjadi kesulitan tersendiri saat kita mencari pacar baru. Harapan sudah terpatri, “rambu2″ sudah terpasang, standar sudah terbentuk, seringkali menjadi penghambat bagi proses pencarian itu sendiri. Kandidat A kurang cakep, krn rambutnya keriting. Kandidat B gak asik, soalnya kalo menguap sering lupa nutup mulutnya. Kandidat C kurang gaul, dia lebih suka mantengin game kesukaannya daripada jalan sama aku. Kandidat C gak bisa bagi waktu, krn terlalu banyak terlibat kegiatan kemahasiswaan. Kandidat D gak sopan, soalnya dia sering salah naruh posisi sendok dan garpu setelah makan. Dan seabreg alasan lainnya.

Tentu boleh dan sah2 saja punya rambu dan standar pemilihan pacar. Rambu dan standar bahkan penting agar kita gak asal comot sembarang orang untuk kita jadikan pacar. Namun kita seringkali lupa, kadang hal2 yg gak penting juga kita masukkan ke dalam rambu dan standar yg kita tetapkan. Kita lupa bahwa pembelajaran gak berhenti saat kita pacaran pertama kali. Kita masih bisa belajar banyak hal dari pacar2 selanjutnya. Kita masih sangat mungkin menemukan hal2 baru, hal2 yg lebih baik, hal2 yg lebih mencerahkan, hal2 yg lebih positif, dan seterusnya, dari kandidat2 pacar tsb.

Jika kita benar2 mengikhlaskan “kepergian” pacar pertama, sudah seharusnya kita bisa lepas dari bayang2 pacar pertama tsb. Apa yg telah kita alami bersama pacar pertama cukup kita jadikan sebagai pengalaman yg bisa kita ambil hikmahnya. Tapi jangan pernah membiarkan diri kita terbelenggu masa lalu kita sendiri. The life must and still goes on, no matter what had happened. Buka hati, hilangkan kenangan, siapkan mental dan fisik kita untuk mendobrak pintu hati yg sedang buntu, kemudian sambutlah kedatangan pacar baru.

Pacar baru yg nanti akan kita pilih dari sekian banyak calon, bisa dipastikan tidak akan sama dengan pacar kita sebelumnya. Jika kita masih mengharapkan akan mendapatkan orang yg sama, berarti kita belum benar2 mengikhlaskan perginya pacar pertama. Bisa jadi, ini indikator bahwa kita masih mencintai pacar pertama. Kalau demikian, hentikan dulu proses pencarian pacar baru. Jika dipaksa untuk diteruskan, kemungkinan besar kita hanya akan mendapatkan kekecewaan. Lebih baik, kalau memang masih cinta, berusahalah kembali ke pacar pertama, jika masih dimungkinkan. Jika gak mungkin kembali, berarti kita masih harus membenahi diri kita sendiri sebelum kita bisa menerima pacar baru.

Pacar baru harus lebih baik? Itu relatif. Seorang pacar, punya ratusan atau bahkan ribuan karakter, sifat, dan tingkah laku. Gak mungkin seluruhnya buruk, sebagaimana gak mungkin pula seluruhnya baik. Setiap pacar pasti punya kekurangan dan kelebihannya masing2. Dan saat kita telah menentukan pilihan, berarti kita harus siap dengan konsekuensi pilihan tsb. Usahakan semaksimal mungkin untuk bisa menerima pacar baru tsb dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kurangi ego, tingkatkan kebersamaan, dan waktu akan memainkan perannya untuk menunjukkan apakah pilihan kita kali ini benar atau salah. Jika benar, bersyukurlah kita. Jika salah, tetap bersyukur juga, krn toh ini masih berstatus pacar, bukan pasangan tetap. Jika kita masih optimis dan terus berusaha, dijamin kita akan mendapat pacar yg nantinya pantas untuk kita jadikan pasangan tetap.

Selamat pacaran.


sumber: beeography.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright 2009 MAX Ent.
designed by EZwpthemes Converted by ThemeCraft Powered by Blogger Templates